Slider

Business

Marketing

media

advertising

Fania Nada Sang Penyanyi dangdut suka yang

Fania Nada. Dia suka sesuatu yang besar, termasuk mobil...




Penyanyi dangdut Fania Nada (FN) merupakan peminat mobil bertubuh bongsor seperti Fortuner. Saking sukanya, Fania Nadia pun berusaha memilikinya dengan keringatnya sendiri, hasil bernyanyi dan bergoyang dari panggung menuju ke panggung, termasuk sejumlah radio FM dan stasiun TV..

Setelah impian Fania Nada terwujud, Nada kemudian tak menyia-nyiakan keberkahan itu dengan menjejali Fortuner kelir putihnya dengan pelat nomor cantik, F2N1 sesuai inisial namanya..



Kini, banyak waktu dihabiskan dengan Fortuner mewahnya. Terlebih, aktivitasnya yang padat menuntut Fania Nada untuk betah berlama-lama di balik setir membelah kemacetan lalu lintas ibu kota. Ada satu kebiasaan nakal yang kerap Fania Nada lakukan bersama mobil kesayangan, yakni menginjak pedal gas dalam-dalam. Ya, ngebut rupanya menjadi hobi barunya selain menyanyi. Apalagi kapasitas mesin mobil yang ia miliki mendukung kesenangannya..



Ia mengaku kerap ngebut saat hendak mengejar waktu pentas bernyanyi. Pernah suatu ketika, saat Fania sedang terburu-buru, ia nekat membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fania kemudian menyalip mobil di depannya dari kiri..



Saat itulah ia sadar jika ada petugas patroli dari kepolisian yang melihat aksi bandelnya di jalan raya. Fania yang ketakutan langsung ngacir tancap gas. Mobil di belakangnya juga ikut kencang menempelnya.







Setelah cukup lama balap-balapan, ia pun mengendurkan gasnya. “Saya pikir akan ditilang. Eh begitu petugas itu membuka kaca mobilnya malah minta nomor handphone...he...he...,” ujar Fania Nada senyum.. ^_^



Aktor Kawakan Didi Petet (Pemeran Kang Bahar dalam Preman Pensiun) Meninggal Dunia


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dunia hiburan kembali berduka. Salah satu aktor senior Indonesia, Didi Widiatmoko yang dikenal luas dengan nama Didi Petet, mengembuskan nafas terakhir pagi ini, Jumat (15/5). Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang juga ayah penyanyi Sherina Munaf, mengatakan Didi Petet (Kang Bahar dalam preman Pensiun) meninggal karena sakit yang dideritanya.

“Beliau meninggal hari ini pukul 05.00 WIB karena sakit. Sepulang dari Milan, kira-kira tiga hari lalu, rupanya recovery-nya kurang baik,” Saat ini Triawan sedang bersiap menuju rumah duka di Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. 

Didi Petet wafat di usia 58 tahun. Pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956 itu menyumbangkan banyak karya untuk dunia perfilman Indonesia. Aktor serbabisa itu memerankan berbagai tokoh, salah satu yang paling terkenal ialah Emon dalam film Catatan si Boy, Kabayan dalam Saba Kota, sampai Suwito dalam Pasir Berbisik dan yang baru baru ini ialah Kang Bahar dalam Preman Pensiun.,.

Prestasi yang di raih :

Aktor Pembantu Terbaik, Piala Citra FFI 1988 (Cinta Anak Jaman)
Aktor Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 1988 (Catatan si Boy)
Aktor Terpuji FFB 1989 (Gema Kampus 66)
Aktor Terpuji FFB 1994 (Si Kabayan Cari Jodoh)
Lifetime Achievement MTV Indonesia Movie Award 2004
Nominasi Piala Citra 1990, Aktor Utama (Joe Turun Ke Desa)
Nominasi Piala Citra 1991, Aktor Utama (Boneka dari Indiana)
Nominasi Piala Citra 2004, Aktor Pembantu (Pasir Berbisik)
Nominasi Indonesian Movie Award 2010, Aktor Utama (Jermal)
Nominasi Piala Vidia 2011, Aktor Pembantu (Bakpao Pingping)
Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2013Aktor Pembantu Terbaik, Piala Citra FFI 1988 (Cinta Anak Jaman)
Aktor Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 1988 (Catatan si Boy)
Aktor Terpuji FFB 1989 (Gema Kampus 66)
Aktor Terpuji FFB 1994 (Si Kabayan Cari Jodoh)
Lifetime Achievement MTV Indonesia Movie Award 2004
Nominasi Piala Citra 1990, Aktor Utama (Joe Turun Ke Desa)
Nominasi Piala Citra 1991, Aktor Utama (Boneka dari Indiana)
Nominasi Piala Citra 2004, Aktor Pembantu (Pasir Berbisik)
Nominasi Indonesian Movie Award 2010, Aktor Utama (Jermal)
Nominasi Piala Vidia 2011, Aktor Pembantu (Bakpao Pingping)
Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2013

Filmografi: 

"Semua Karena Ginah" (1985)
"Catatan Si Boy" (1987)
"Namaku Joe" (1988)
"Gema Kampus 66" (1988)
"Catatan Si Boy II" (1988)
"Cinta Anak Jaman" (1988)
"Catatan Si Boy III" (1989)
"Pacar Ketinggalan Kereta" (1989)
"Bercinta Dalam Mimpi" (1989)
"Si Kabayan Saba Kota" (1989)
"Sepondok Dua Cinta" (1990)
"Rebo dan Robby" (1990)
"Gampang-Gampang Susah" (1990)
"Joe Turun ke Desa" (1990)
"Oom Pasikom" (1990)
"Catatan si Boy IV" (1990)
"Catatan Si Boy V" (1991)
"Boneka dari Indiana" (1991)
"Si Kabayan dan Anak Jin" (1991)
"Asmara" (1992)
"Si Kabayan Saba Metropolitan" (1992)
"Si Kabayan Cari Jodoh" (1994)
"Petualangan Sherina" (2000)
"Pasir Berbisik" (2001)
"Arisan!" (2003)
"Eiffel I'm in Love" (2003)
"Rindu Kami PadaMu" (2004)
"Apa Artinya Cinta?" (2005)
"Tentang Dia" (2005)
"Ketika" (2005)
"Banyu Biru" (2005)
"D'Girlz Begins" (2006)
"Kamulah Satu-Satunya" (2007)
"Kirun + Adul" (2009)
"Jermal" (2009)
"Ketika Cinta Bertasbih" (2009)
"Emak Ingin Naik Haji" (2009)
"Ai Lop Yu Pul" (2009)
"Di Bawah Langit" (2010)
"Bebek Belur" (2010)
"Kabayan Jadi Milyuner" (2010)
"Baik-Baik Sayang" (2011)
"Lost in Papua" (2011)
"Catatan (Harian) si Boy" (2011)
"Di Bawah Lindungan Ka'bah" (2011)
"5 cm" (2012)
"Madre" (2013) Nominasi Aktor Pendukung terbaik Piala Citra 2013
"Bangun Lagi Dong Lupus" (2013)
"12 Menit" (2014)
"Ketika Tuhan Jatuh Cinta" (2014)
"Guru Bangsa: Tjokroaminoto" (2015)

Sinetron:

Kabayan
Buku Harian
Cintaku Di Rumah Susun
Primadona
Ridho
Maha Kasih
Kapan Kita Pacaran Lagi
Dunia Tanpa Koma
Losmen
Siapa yang Meniduri Ranjangku
3 Semprul Mengejar Surga (2013)
Preman Pensiun (2015)

sumber : lihat disini

Go Xi Fa Cai !!!

Tahun Baru Imlek 2015 merupakan hal yang penting bagi beberapa orang di Indonesia di antaranya adalah bagi keturunan chinesse, banyak yang merayakan pergantian tahun dengan melakukan berbagai kegiatan seperti penjamuan makan atau penyulutan kembang api yang sering sekali dilihat yang tidak lain adalah sebagai ungkapan rasa syukur karena masih diberikan umur panjang dan sehat sampai menginjak tahun yang baru.



Imlek memang tahun baru Tionghoa. Tapi kalimat "gong xi fa cai", yang banyak terdengar atau ditempel di selama Imlek yang tahun ini jatuh pada Senin (26/1), bukan berarti "selamat tahun baru"

Seperti yang di lansir tempo.co yg merujuk pada koran Daily Express, yang sebagian besar pembacanya puak Cina di Sabah, Malaysia, "gong xi fa cai" itu berarti "selamat dan semoga sejahtera".

Kadang tulisan "gong xi fa cai" ditulis dengan cara lain karena beda ejaan dan dialek. Misalnya saja "keong hee huat chie" (Hokkien), "kung hei fat choi" (Kanton atau Hongkong), atau "kung hei fat choi" (Hakka).

Meski tulisannya tampak jauh dari dialek lain, tapi cara membaca "Gong Xi Fa Cai" tidak jauh berbeda dengan yang lain yakni: "kung shi fa tsai". Ini karena huruf "g" di ejaan resmi itu dibaca "k", "x" dibaca "sh", dan "c" dibaca "ts". 

Sebagai perbandingan, kata "kungfu" yang biasa di kenal di Indonesia, dalam ejaan resmi Mandarin menjadi "Gongfu". 

"Gong xi fa cai" itu menggunakan bahasa Mandarin dengan Hanyu Pinyin, ejaan huruf Latin yang dipakai resmi di Cina, Taiwan, dan Singapura. Sedang dialek lain menggunakan ejaan tidak resmi Wade-Giles.

Untuk anak-anak, ucapan yang digunakan lebih panjang lagi. Mereka akan mengatakan "gong xi fa cai, hong bao na lai" (kung shi fa tsai, ang pao na lai) yang berarti "selamat dan sejahtera, bawakan saya ang pao". Bagi anak-anak Tionghoa, Imlek itu seperti Lebaran, saatnya mengumpulkan angpao.


Ucapan "gong xi fa cai" saling dipertukarkan saat Imlek sejak ribuah tahun yang lalu. Ingat saja, penanggalan Cina sekarang sudah berusia 26 abad, lebih tua enam abad dibanding penanggalan Masehi.